Dalam bulan Desember ini, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) berulangtahun ke 63. Banyak capaian positif yang telah diraih dalam kurun waktu itu. Namun, tidak sedikit pula agenda yang telah disusun oleh para planner di Mabes AL urung atau belum dijalankan baik karena alasan finansial, politik atau bauran keduanya.
Untuk agenda yang belum dijalankan, HUT tahun ini bisalah dijadikan momentum bagi kalangan pimpinan TNI AL untuk secepatnya merealisasikannya.
Atribut
Agenda yang belum berhasil diimplementasikan oleh TNI AL adalah merubah tampilan atribut kedinasan. Atribut kedinasan yang dikenakan oleh TNI AL saat ini jauh berbeda dari tradisi yang lazim diterapkan dalam komunitas AL mondial.
Contohnya seragam harian. Seragam harian AL di dunia biasanya berupa pantalon dan kemaja putih. Ada juga yang memadukan pantalon hitam dengan kemaja putih, RSN (Republic of Singapore Navy/AL Singapura) misalnya. Apapun kombinasinya, yang jelas putih merupakan warna yang selalu dipergunakan.
Di Indonesia seragam putih hanya dikenakan oleh prajurit TNI AL pada saat upacara. Untuk seragam harian mereka mengenakan setelan kemeja abu-abu dan pantalon biru muda.
Menurut cerita seorang teman pensiunan laksamana pertama, dengan warna seragam harian saat ini jika ada pertemuan dengan AL mancanegara prajurit TNI AL, walaupun berseloroh, sering ditanya apakah mereka betul-betul AL. Soalnya, seragam mereka berbeda sekali, tidak ada sedikitpun ciri global yang mengidentifikasikan mereka sebagai personil AL.
Mabes TNI AL telah merencanakan mengganti seragam harian saat ini dengan kemeja putih dan pantalon hitam seperti seragam RSN. Tapi, hingga kini tidak jelas nasib program tersebut.
Selain seragam, atribut kedinasan TNI AL yang juga berbeda dengan tradisi yang lazim adalah tanda pangkat, khususnya untuk perwira.
Tanda pangkat yang secara tradisional dipergunakan oleh AL di seluruh dunia berbentuk bars (balok). Mulai dari letnan (ensign) hingga laksamana memakainya. Perwira pertama dibedakan dengan perwira menengah dengan penuh atau setengah penuh bars-nya. Sementara untuk laksamana ditambahkan bintang setelah bars.
Di TNI AL pangkat berbentuk balok hanya dikenakan mulai dari letnan hingga kapten. Sementara, mayor hingga kolonel menyandang melati dan para laksamana memakai bintang.
Kata pensiunan laksama pertama itu lagi, pernah dalam satu kunjungan dinas ke luar negeri, saat itu ia berpangkat mayor, perwira yang berpangkat letnan dan kapten (satu/dua dan tiga bars) dalam rombongannya selalu mendapat hormat terlebih dahulu dari perwira AL tuan rumah. Sementara, ia dan beberapa rekannya yang berpangkat mayor baru mendapat salut setelah diberitahu oleh mereka yang berpangkat letnan/kapten tadi. Dalam tradisi kepangkatan AL dunia tiga atau empat bars setara dengan commander (letnan kolonel/kolonel).
TNI AL juga menggunakan topi yang berbeda dari tradisi. Di Indonesia AL-nya memakai topi berbentuk kopiah sementara di tempat lain topi pet. Tutup kepala model ini ada gunanya di atas kapal. Karena dilengkapi pita (stormband) yang bisa dipanjangpendekan sesuai ukuran dagu pemakai, bisa dipastikan ia tidak akan terlepas disapu angin. Kalau kopiah sudah pasti akan diterbangkan angin karena tidak ada pengikatnya.
TNI AL pernah menggunakan semua atribut yang disebutkan di atas, yakni sejak kelahirannya hingga era Presiden Soekarno. Tapi, seiring naiknya almarhum Soeharto ke tampuk kekuasaan ciri-ciri itu perlahan-lahan mulai dihapus dan diganti dengan apa yang dikenakan oleh prajurit TNI AL sekarang.
Manfaat
Apa manfaat semua revitalisasi ciri-ciri mondial AL bagi TNI AL? Jawabannya sangat tergantung pada perspektif yang digunakan. Jika pertimbangan ekonomi dan politik dikedepankan, jawabannya sudah tentu perubahan atribut itu tidak akan membawa banyak manfaat; menghamburkan uang negara yang jumlahnya sangat terbatas saat ini. Di samping itu, menghidupkan kembali ciri-ciri mondial AL bisa menarik TNI AL ke sudut tersendiri yang membuatnya berbeda dari angkatan yang lain. Hal ini dikhawatirkan bisa memecah-belah TNI secara keseluruhan.
Tapi, jika pertanyaan apa manfaat perubahan atribut itu dijawab dari sudut pandang yang lain, akan didapat kesimpulan bahwa perubahan itu bermanfaat. Manfaatnya, citra TNI AL akan makin kuat di tengah komunitas angkatan laut internasional karena ia memiliki kesamaan tampilan fisik dengan angkatan laut lainnya. Harus diakui, angkatan laut merupakan satu-satunya angkatan perang yang memiliki tradisi yang seragam di seluruh dunia, antara lain, penaikan dan penurunan bendera, tiup peluit, bendera dinas hari minggu, dll.
Dengan memiliki kesamaan tadi, TNI AL akan makin cair dalam berkomunikasi dengan sejawatnya di forum dunia. Dalam proses komunikasi kesamaan (commonness) sangat diperlukan agar pesan yang dipertukaran tidak sulit dipahami oleh pelaku komunikasi (communicator). Jika sudah saling memahami celah pertengkaran akan sangat kecil. Yang ada hanyalah kesepakatan. Dirgahayu TNI AL. Jalesveva Jayamahe.
*Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Jakarta
Kandidat M. Sc (Strategic Studies) RSIS-NTU, Singapura
Salam Bahari,
Mohon maaf Pak saya tidak sependapat dengan pernyataan tentang seragam dan tanda pangkat di atas. Menurut saya seragam dan tanda pangkat bukanlah tradisi angkatan laut secara internasional. Kita perhatikan bahwa setiap negara dapat mengatur seragamnya masing-masing sesuai dengan sistem yang berlaku di negara tersebut. Contohnya di negara-negara yang mengalami 4 musim pasti memiliki seragam untuk musim-musim tersebut, sedangkan seragam tersebut tidak diperlukan untuk negara tropis seperti Indonesia. Mengenai warna pun berlaku prinsip yang sama. Demikian pula dengan tanda pangkat. Negara-negara seperti Mesir, Israel, Lebanon, Algeria, Kuba, Hong Kong, Jordan, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, Vietnam tidak menggunakan sistem balok dalam struktur tanda kepangkatannya. Bahkan Malaysia dan Perancis mempunyai Laksamana Bintang Lima yang tidak dikenal dalam struktur kemiliteran, termasuk Singapura menggunakan sistem tanda pangkat yang hampir sama dengan TNI AL. Sehingga, seragam dan tanda pangkat bukanlah hal yang esensial dan bukan bagian tradisi angkatan laut internasional melainkan hal yang unik untuk tiap-tiap negara sesuai dengan sistem yang berkembang di negara yang bersangkutan.
Hal ini berbeda dengan tradisi pluit, penaikan-penurunan bendera, penghormatan bendera, tradisi kehidupan di atas kapal, dll. Hal-hal tersebut memang perlu diikuti sebagai tradisi kehidupan di laut. Karena hal tersebut merupakan tanda-tanda sederhana yang perlu dapat segera dimengerti bagi setiap orang yang hidup/bekerja di laut.
Untuk angkatan laut kita, TNI AL, saya pikir lebih memerlukan dukungan maupun dorongan untuk dapat berfungsi secara lebih profesional. Atau secara sederhana kita sebut dapat melaksanakan fungsi dan tugas asasinya sebagai bagian pokok pertahanan NKRI di laut. Diharapkan TNI AL dapat eksis sebagai sosok yang profesional. Untuk mendukung profesionalisme tersebut, perlu didukung dengan tingkat kesejahteraan yang memadahi. Sehingga, sebagai bagian dari elemen bangsa, kita perlu bersama-sama mengupayakan kesejahteraan bagi personel TNI AL dan secara paralel menuntut perilaku profesionalnya. Dengan demikian TNI AL tidak akan mempermasalahkan seragam apa yang digunakan melainkan kemampuan apa yang dimiliki untuk dapat duduk sejajar, bahkan lebih tinggi, dari angkatan laut negara-negara lain.
JALESVEVA JAYAMAHE
(make it happens, not just a phrase)