Skip to content


TNI-AL menjadi blue-water navy (kembali)?

Setelah sempat tertunda beberapa waktu, Indonesia akhirnya mengirimkan juga kapal perangnya berlayar ke luar negeri untuk mengemban misi internasional. Menariknya, kapal perang yang dikirim, KRI Diponegoro-365, akan menjalankan dua misi sekaligus, yakni sebagai bagian dari Satuan Tugas Maritim TNI Kontingen Garuda (Konga) XXVIII-A di Libanon dan reinforcement bagi patroli keamanan multinasional di wilayah perairan Somalia yang masih saja dibayangi ancaman piracy atau perompakan. Menurut Panglima TNI Djoko Santoso, ketika melepas kapal perang tersebut di dermaga Komando Lintas Laut Militer, Tanjung Priok, Jakarta, belum lama berselang, kedua misi itu merupakan yang pertama dalam sejarah panjang TNI-AL. Apakah pengiriman kapal perang itu mengindikasikan bahwa TNI-AL akan menjadi blue water-navy kembali?

Secara umum blue-water navy adalah konsepsi tentang kemampuan angkatan laut satu negara untuk digelar atau deployment di samudera luas/high seas dalam kurun waktu yang cukup lama. Dalam studi ilmu peperangan modern, angkatan laut yang ingin menerapkan prinsip blue-water navy harus memiliki kemampuan membela diri yang handal dari kemungkinan serangan lawan yang berasal bawah air (kapal selam), permukaan (kapal perusak, frigat, korvet, dll), dan serangan udara. Di samping itu, untuk menjadi sebuah angkatan laut yang blue-water dibutuhkan suplai logistik yang baik sehingga armada yang sedang berada di tengah samudera luas tadi dapat beroperasi terus-menerus tanpa mengalami gangguan.

Pilihan untuk menjadi angkatan laut dengan karakteristik blue-water biasanya ditentukan oleh sifat-sifat lingkungan maritim negara bersangkutan atau bisa juga karena alasan lain. Namun yang jelas, menjadi blue-water navy tidak terkait dengan postur armada (baca: tipe kapal) yang dimiliki oleh satu negara. Dengan bahasa lain, untuk menjadi blue-water navy tidak mesti harus memiliki aircraft carrier (kapal induk) atau kapal selam bertenaga nuklir dan lain sebagainya. Banyak angkatan laut di dunia yang mengoperasikan kapal-kapal baru nan canggih tapi tidak menjadi blue-water navy karena mereka tidak mampu mendukung kebutuhan logistiknya. Kunci untuk menjadi blue-water navy adalah kemampuan untuk mensuplai armada di garis depan secara terus-menerus.

TNI-AL= blue-water navy

TNI-AL sejatinya merupakan blue-water navy. Bacalah doktrin Eka Sasana Jaya mereka. Secara umum, menurut doktrin yang diformulasikan pada 17 Agustus 1965 itu, kapal-kapal perang TNI-AL dapat digelar untuk menjamin keselamatan armada niaga Indonesia saat berlayar dimanapun, baik di laut territorial maupun lautan lepas; TNI-AL merupakan conditio sine qua non bagi armada niaga Indonesia.

Doktrin Eka Sasana Jaya merupakan adaptasi dari pemikiran ahli strategi maritim Alfred Thayer Mahan. Dalam perspektif Mahanian a strong navy was vital to the success of a nation, and control of the seas was vital for the projection of force on land and overseas.

Seiring dengan ditetapkannya doktrin Catur Karma Eka Karma pada 1988 dan doktrin Sad Dwi Bhakti pada 1994, doktrin Eka Sasana Jaya tidak digunakan lagi. Kendati hipotetis, dengan perubahan doktrin tadi, perlahan-perlahan TNI-AL menjadi seperti sekarang ini, yakni tidak jelas apakah blue-water navy, green-water navy atau brown-water navy.

Ketika terjadi reformasi di Indonesia sepuluh tahun lalu, termasuk reformasi di tubuh militer, TNI-AL sebetulnya memiliki peluang untuk kembali menerapkan doktrin mereka, namun sayang, sejauh penulis pahami, hingga saat ini tidak terlihat adanya pemikiran ke arah itu. Memang ada reformasi di tubuh TNI-AL, sebagaimana di tubuh angkatan lainnya, tapi terbatas pada masalah sikap politik tentara atau, paling banter, bisnis militer. Tentu pimpinan TNI-AL tidak bisa sepenuhnya dikatakan tidak memiliki niat mereformasi total TNI-AL, ada faktor-faktor, politis tentunya, yang berada di luar jangkauan mereka. Karena itu, momentum pengiriman kapal perang KRI Diponegoro-365 ke samudera luas harus dimanfaatkan oleh kalangan TNI-AL dan masyarakat lainnya untuk kembali meneguhkan jatidiri TNI-AL sebagai blue-water navy.

Mengingat Indonesia akan mengadakan pesta demokrasi, mudah-mudahan dengan pemilihan umum yang akan digelar tak lama lagi itu akan terpilih wakil-wakil rakyat dengan kesadaran maritim yang kuat sehingga keinginan untuk menjadikan kembali TNI-AL sebagai blue-water navy bisa didukung dengan kebijakan politik yang solid. Dukungan politik parlemen sangat dibutuhkan untuk mengawal arah reformasi TNI-AL karena, suka atau tidak suka, ada banyak stigma lama yang masih melekat pada tubuh matra ini yang dibangun oleh pihak-pihak lain. Hanya dukungan dan keputusan politik yang bisa menghapuskan semua itu. Di samping itu, dukungan politik parlemen juga dibutuhkan untuk menetapkan bahwa proses reformasi TNI tidak berarti proses unifikasi. Masing-masing angkatan harus dibiarkan berkembang sesuai dengan karakteristik matranya. Jangan biarkan tentara menentukan nasib dirinya sendiri, politisi juga perlu terlibat.

*Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Jakarta
Kandidat M. Sc (Strategic Studies), RSIS-NTU, Singapura

Posted in Pertahanan dan Keamanan Maritim.


3 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. Singgih Nata says

    Bapak Rusdi Yth,

    Blue Water Navy, sekarang ini sudah mulai agak luntur. AS yang satu-satunya Blue Water Navy di dunia ini, dalam pengremajaan armadanya ternyata lebih mementingkan pengamanan pantainya.
    Apakah ini mungkin akibat dari kebobolan dengan runtuhnya Menara Kembar. Atau sudah terasa bahwa mengongkosi Armada di Pacific, Lautan Hindia dan di Atlantic sangat mahal..

    Atau mungkin karena ongkos perang di Irak dan Afghanistan sudah betul mengorek habis kocek dana untuk keperluan perang. Ternyata keberadaan Kapal Induk AS di Teluk Persia, sudah setahun lebih hanya duduk terapung saja. Aktivitas naik turun pesawat tempur untuk terbang ke Front Depan boleh dikatakan tidak ada sama sekali. Lanud di Turki dan Afghanistan jauh lebih sibuk melayani naik turun pesawat tempur maupun pesawat bom. Di Afghanistan dekat perbatasan dengan Pakistan lebih sering terlihat pesawat naik turun ialah pesawat pelempar roket tanpa manusia.

    Apakah karena gejala-gejala ini, dalam pengremajaan Armadanya, AS sudah meluncurkan kapal-kapal cepat yang disebut Kapal Littoral. Kapal-kapal ini ditugaskan dalam pengamanan pantai AS, dari serangan mendadak seperti pada 11 Sept. 2001.

    Juga mungkin belum ada jalan keluar dalam usaha-usaha membongkar kapal-kapal tua dari jenis Kapal Induk dan Kapal Selam dengan tenaga nuklir. Banyak kapal tua dengan tenaga penggerak nuklir di AS maupun di Russia yang nasibnya hidup enggan matipun tidak. Dikatakan sudah jadi kapal rongsokan, semua alat-alatnya masih komplit terpasang, terutama bagian ruangan mesinnya.
    Dikatakan masih dioperasikan, Sebahagian peralatan navigasi dan electronic lainnya (jaringan peluncuran Nuclear Missiles) sudah diamankan.

    Rupanya dalam zaman modern ini, pertahanan Negara itu mulai menuju ke “pasang kuda-kuda” saja. Mungkin dengan rocket nuklir antar benua sudah dianggap cukup. Pengoperasian kapal induk dan kapal-kapal kesatuannya sudah dianggap kurang memadai. Ingin melihat kegiatan musuh, satelit mata-mata sudah sangat canggih. Nomer plat mobil saja sudah dapat dipotret dengan jelas. Malah apa yang disebut “Bomber” sekarang ini hanya sebagai pembawa bom sampai ditempat tujuan. Begitu muatan bom-nya dijatuhkan, pengarahan bom-bom itu ke sasaran yang diinginkan diatur dari daratan melalui satelit. Tentunya “daratan” yang aman ialah di negara sendiri, diruangan-ruangan electronic didalan gunung batu.

    Kapal jenis HSV, sanggup memuat 1500 perajurit lengkap dengan truk-truk peralatan dan tank, kemana saja dan dalam waktu singkat.
    Kapal HSV ini diberangkatkan dari pelabuhan Jibouty dengan membawa personnel Marinir ke Teluk Persia (Bahrain) hanya dalam waktu 35 jam saja. Dimana kalau dibawa oleh kapal pengakut pasukan jenis yang biasa dipakai memerlukan waktu lebih dari 70 jam.
    Juga dicoba dengan hasil yang memuaskan dalam pengangkutan Marinir dari Guam ke Jepang. Dan dari Guam ke Thailand.

    Jadi persoalannya bukan lagi bahwa AL suatu negara itu :”Blue water”,:Green water” atau “Brown water” yang diandalkan. Tetapi kesanggupan atas penyerangan pertama yang ampuh dan kemudian disusul dengan pendaratan pasukan pertama dengan peralatan lengkap dalam waktu singkat. Kapal tradisionil pengangkut pasukan dan Kapal-kapal peluncur rocket menunggu jauh dari pantai dibawah cakrawala menunggu intruksi peluncuran rocketnya atas perintah dan saran dari “darat” atau dari “dalam gunung batu” melalui satelit. Juga menunggu perintah agar pasukan dan peralatannya untuk dipindahkan ke HSV dan berlayar dengan kecepatan tinggi menuju ke pantai.

    NKRI lain tidak hanya pantai, ini sangat empuk dan gampang untuk diserang dan diduduki. Persoalannya bagaimana mempertahankannya. Atau mendapatkan kabar pertama yang tepat dan dalam waktu singkat sampai dimeja RISatu atau meja operasi di Mabes ABRI.

    Lain halnya kalau berperang dengan Negara yang tidak berpantai. Seperti di Afghanistan, tentara Soviet dengan segala peralatan yang modern ternyata menyerah kepada orang-orang penaik kuda penyandang senapan. Sekarang ini, anak-anak yang biasa makan hamburger dan Ice Cream dan berolahraga hanya menggerakan kedua ibu jari (main Nitendo) dikirim ke gunung-gunung tandus, yah kesian merana jadinya. Untungnya dikirim ke negara dimana tanaman ganja tumbuh liar di pinggir jalanan, dipinggir gedung, ditanah kosong. Siang hari berpatroli ditanah tandus, panas lagi, malam hari berkemah di tanah kosong, sepi tak ada hiburan.

    “Kalau tidak salah, tadi siang aku selipkan beberapa lembar daun diantara daun-daunan camouflage ditopi baja. Sap…sap…sap, enak juga nih perang begini”

    Pantesan di Irak perajurit akan segera di tarik, tetapi diAfghansitan perajuritnya akan ditambah lagi. Dari pada pulang kampung terus
    nganggur.

    Salam,
    Pak Joe
    bukan ex awak kapal selam. Malah awak kapal selam kalau mendengar Squadron dimana saya bertugas 45 tahun yang lalu,ketir-ketir hatinya. Semua peralatan didalam kapal selam dimatikan. Tak boleh ribut-ribut, Kapal tergolek didasar laut. Awak kapal berdoa agar kapal kecil (lebih kecil dari MTB Pak Yos) dari kayu ini cepat-cepat menjauh.

  2. Siswanto Rusdi says

    Pak Joe yth,

    Terima kasih untuk komentar anda. Sangat berbobot!

    Menurut hemat saya, blue-water navy malah semakin mengemuka sebagai sebuah konsep pertahanan dan negara-negara lain berlomba-lomba menerapkannya. Karena, menjadi blue-water navy tidak identik dengan kepemilikan aircraft carrier. Contoh, Singapura. AL negara ini telah menjadi blue-water. Saat ini (dari sisi kapal selam) negara itu telah mengoperasikan empat kapal (RSS Challenger, RSS Conqueror, RSS Centurion, dan RSS Chieftain). Kini mereka sedang menunggu datangnya dua kapal selam baru, kelas Västergötland, dari Swedia. Sementara, AL Malaysia akan kedatangan dua kapal selam kelas Scorpene dalam tahun ini.

    Menjadi blue-water navy berarti kita menerapkan deterence factor terhadap musuh-musuh kita. Kita memukul mereka jauh sebelum mereka masuk ke dalam wilayah kita. Dan, pilihan yang paling cocok untuk ini adalah matra laut.

    Untuk Indonesia, menjadi blue-water navy adalah piihan yang paling logis karena kita negara pantai. Namun, melihat struktur pertahanan saat ini, sepertinya kita membiarkan musuh masuk ke wilayah pertahanan dan akan dipukul balik dengan kekuatan matra darat. AL dan AU kita ditarik untuk memberikan dukungan ke medan tempur yang tak jauh dari pantai. Terlalu beresiko!

    Wah, saya salah mengerti kalimat eks buru selam. Rupanya anda penghancur mereka. O ya, tinggal dimana?

    Salam hangat,

    SR

  3. Lautbiru says

    Pak Sis,

    Memang pengiriman misi KRI ke perairan internasional sedikit banyak bisa mengangkat citra TNI AL dan Indonesia yang sedang bergerak untuk menjadi negara maritim betulan.

    Seperti kita ketahui, RRC, India dan Malaysia sudah terlebih dahulu mengirimkan armada AL mereka untuk ikut menjaga perairan Somalia dari ancaman para perompak. Tentu yang diutamakan adalah menjaga lancarnya pelayaran kapal berbendera negara masing-masing tersebut.

    Kalau melihat TNI AL dengan fungsi ‘blue water navy” sebagai pemukul musuh jauh sebelum masuk ke wilayah RI saya kira ya masih jauh dari kenyataan. Karena sebuah angkatan laut yang kuat juga harus didukung oleh kekuatan udara yang bisa datang dari angkatan udara atau kekuatan udara dari dalam angkata laut itu sendiri (seperti AS yang punya kekuatan udara di dalalam unit angkatan laut yang luar biasa lengkapnya).

    Perlu diingat bahwa KRI Diponegoro-365 itu adalah kapal korvet yang baru gres! Untuk tugas-tugas “blue water navy” perlulah kapal-kapal yang bisa diandalkan dan jangan sampai mengirimkan kapal perang tua yang bermasalah sehingga bisa “ngerepotin” orang lain kalau sampai rusak di tengah laut.

    Kalau TNI AL sebagai “blue water navy” ikut serta dalam peran-peran politik bebas aktif seperti sebagai penjaga perdamaian PBB di Lebanon saya rasa lebih realistis dan sangat perlu didukung. Selain itu juga nantinya diharapkan ketika kapal berbendera Indonesia sudah mulai berkeliaran di lautan internasional (…amin…), TNI AL juga diharapkan bisa ikut menjaga keamana kapal-kapal tersebut jika diperlukan (seperti kondisi perairan Somalia saat ini).



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.