Skip to content


Kendala Teknologi dan Kapasitas Ocean Energy

Para insinyur Indonesia pada umumnya menguasai teknologi secara global dan di atas kertas. Karena ketika di kampus hampir semua mahasiswa tidak pernah melakukan praktek penerapan teknologi secara langsung, apalagi di perguruan tinggi swasta. Penyebab utama adalah kurangnya biaya untuk melakukan praktek penerapan teknologi tersebut

Apa yang salah di bangsa kita, sehingga sampai saat ini Indonesia masih berada di kelompok negara berkembang. Indonesia pada tahun 1966 memperoleh kepercayaan menjadi negara pertama di Asia untuk tempat asembling mobil-mobil Jepang, tetapi hingga saat ini telah lebih dari 40 tahun, bangsa ini belum mampu membuat mobil sendiri. Indonesia merupakan negara ketiga di dunia melakukan pengeboran minyak setelah Amerika Serikat dan Venezuela, tetapi hingga saat ini explorasi minyak dari perut bumi pertiwi ini masih diserahkan ke negara-negara asing.

Demikian pula halnya dengan teknologi pemanfaatan Ocean Energy atau enerji laut. Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah mulai dengan beberapa pengembangan enerji laut, seperti enerji gelombang di Yogyakart. Tetapi mungkin banyak yang tidak tahu, bahwa alat-alat tersebut sumbangan dari negara eropa (maaf lupa negara nya). Yang menjadi pertanyaan, apakah BPPT sudah mampu membangun sendiri mulai dari nol hingga menghasilkan listrik ? Ini perlu pembuktian.

Penguasaan teknologi tidak bisa hanya menghafal pelajaran sejarah, termasuk juga pengembangan dan penerapan enerji laut. Tetapi harus diterapkan secara langsung oleh bangsa sendir. Tidak ada istilah alih teknologi di dunia ini, yang ada adalah pencurian teknologi dari bangsa asing yang bekerjasam dengan Indonesia.

Pada kesempatan ini penulis mencoba sekedar memberikan gambaran tentang kendala teknologi dan kapasitas listrik yang dapat dihasilkan dari enerji laut.

Tidal Power (Enerji Pasang Surut)
Teknlogi pembangkit listrik pasang surut (PLPS) ini mungkin sudah dikuasai penuh oleh bangsa Indonesia, karena prinsipnya tidak berbeda dengan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) seperti di waduk Jatiluhur dan waduk-waduk lainnya. Air laut ketika pasang ditampung dalam suatu wilayah yang di bendung dan pada waktu pasang surut air laut dialirkan kembali ke laut. Pemutaran turbin dilakukan dengan memanfaatkan aliran air ketika masuk ke dalam dam dan ketika keluar dari dam menuju laut.

Kendala utama penerapan teknologi PLPS ini ada dua, pertama Pemerintah belum pernah memanfaatkan enerji pasang surut ini untuk menghasilkan listrik. Sehingga tenaga ahli kita yang telah menguasai teknolgi pembangkit listrik tenaga air belum pernah merancang dan menerapkan atau membangun secara langsung dari awal. Kedua, untuk pembangunan ini akan merendam wilayah yang luas, apalagi bila harus merendam beberapa desa disekitar muara atau kolam. Disisni akan muncul masalah sosial, bukan masalah teknologi.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para insinyur Indonesia untuk penerapan tekknologi ini adalah efisiensi propeler ketika air masuk dan air keluar. Kalau di PLTA arah air penggerak turbin hanya satu arah, sedangkan pada pembangkit listrik pasang surut ini dari dua arah. Hal kedua yang menjadi perhatian, adalah material yang dipergunakan. Untuk air laut diperlukan material khusus disesuaikan dengan kadar garam dan kecepatan airnya

Kapasitas listrik yang dihasilkan oleh PLPS ini sebaiknya untuk kapasitas besar (> 50 MW), agar bisa ekonomis seperti PLTA.

Sayangnya sumber enerji PLPS ini banyak berada wilayah timur Indonesia, mulai dari Ambon hingga ke Papua. Di wilayah ini kebutuhan lsitrik masih kecil dan membutuhkan power cable bawah laut yang sangat panjang untuk bisa membawa listrik ke pulau Sulawesi yang membutuhkan listrik dalam jumlah besar

BERSAMBUNG (Wave Power/Enerji Gelombang)

Donny Achiruddin
Fakultas Teknologi Kelautan, Universitas Darma Persada
Visiting Professor
Institute Ocean Energy Saga University, Japan

Posted in Teknologi Maritim, Teknologi Sumber Energi Maritim.


2 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. avatar singgih nata says

    Memang energy laut ini sangat besar kegunaanya disamping begitu banyaknya tersedia. Tinggal mengambil manfaatnya saja.

    Namun karena biaya yang mahal, bahan yang diperlukan dalam pembuatan baling-baling, serta bahan yang diperlukan untuk “pembungkus” generator. Kapal-kapal barang baja umurnya kalau sampi 25 tahun saja dianggap luar biasa. Padahal dalam setiap kesempatan berlabuh dipelabuhan, lambung dicat. Setahun sekali naik dok. Apa dapat lebih panjang umurnya ? Dapat saja kalau badan kapal dibuat dari aluminum. Kebentur lagi dengan ongkos yang mahal. Lain halnya dengan generator didalam laut, sekali ditanam akan tetap berada dibawah permukaan laut.
    Mungkin generator dan baling-baling dapat dibuat dari bahan aluminum atau tembaga agar tahan dimakan air laut. Disini juga terbentur akan biaya yang mahal.

    Diluar Jawa permukiman penduduk seperti di Sumatra dan Kalimantan, permukiman penduduk adalah didaerah pedalaman. Malah terpencar satu sama lainnya.
    Bayangkan kalau Pembangkit Tenaga Listrik Ombak yang mana harus dipesisir, bagaimana untuk membawa listrik itu ke daerah pedalaman. Kabel listrik tegangan tinggi, kemudian tiang-tiang penyangga kabel listrik tegangan tinggi ini. Belum lagi ongkos pemeliharaan dan ongkos ganti rugi kalau kabel listrik melawati tanah-tanah milik rakyat. Tentunya tanha-tanah ini harus dibeli, ongkos lagi.

    Setiap permukiman penduduk memakai PL-Hydro Mini sudah memadai. Tak perlu investasi lainnya seperti kabel tegangan tingi serta menaranya.
    Biaya dari kedua macam pelengkap listrik ini dapat dipakai untuk satu ..dua atau lebih PLT-Hydromini.

    Atau mungkin Tenaga Angin memakai kincir angin.

    Jug dengan banyaknya sungai-sungai di kedua Pulau ini, akan jauh lebih murah untuk mendirikan PL-Hydro yang besar maupun yang mini. Atau tenaga PLTU, airnya sudah tersedia malah bahan bakarnyapun sudah tersedia. Yaitu batubara di Sumbar dan Sumsel juga di Kaltim. Yang mana cadangan batubara ini cukup banyak untuk 200 tahun lagi.

    Dengan memakai batubara sebagai bahan bakar, akan banyak tambang-tambang yang didirikan. Dengan sendirinya akan menyerap tenaga kerja yang banyak. Walaupun Pembangkit Tenaga Listrik itu sudah dibangun dan beroperasi. Lain halnya dengan Pembangkit Tenaga Listrik Laut, setelah Pembangkit Tenaga Listrik itu dibangun tidak memerlukan lagi pekerja yang banyak.

    Hal lain ialah Uap dari PLTU dapat disalurkan untuk pemakain masyarakat banyak. Memungkinkan timbul industri kecil memakai uap sisa PLTU untuk menjalankan mesin-mesinnya. Baja coran, batubara sebagai pemanas, uap sebagai penggerak mesin cetak.

    Dengan mebangun PLTU dengan bahan bakar batubara diluar kedua pulau ini, biji batubara yang sudah diolah menjadi pellets sebesar kelereng akan memudahkan dalam pengangkutannya. Membuka usaha businis bagi Perusahaan perkapalan, apakah dengan kapal bulk carrier atau dengan tongkang-tongkang. Menambah penyerapan tenaga kerja.

    Dengan teknologi yang mutakhir serbuk-serbuk yang terbawa asap dari cerobong PLTU dapat diperkecil jumlahnya yang dibuang diudara.
    Juga karena negara kita ini negara tropis, kalau serbuk-serbuk menempel di daun-daun pepohonan kalau datang musim hujan akan tersapu bersih. Batubara asal dari bumi dikembalikan ke bumi dengan bantuan hujan. Bahan chemical yang terbawa dari cerobong asap PLT-Diesel akan lebih berbahaya dan akan memakan ongkos untuk menghilangkannya. Dan merusak lingkungan.

    Memang kita harus memikirkan dari sekarang akan cara-cara untuk meraih kuntungan dari tenaga laut yang tersedia banyak ini.
    Namun penetrapnnya akan memakan waktu yang lama.
    Mungkin nanti generasi murid-murid pak Donny.

    Salam,
    Singgih Nata

  2. avatar Djoko Budi says

    Salam Bahari,
    Saya senang bisa jumpa para sahabat bahari via media ini, dan ingin sharing info:
    a. Satu jenis ocean energy yang sedang dalam taraf pengembangan adalah Osmotic Power basis gradient salinity (air laut vs air tawar). Idealnya lokasi pembangkit listrik Osmotic ini berada disekitar garis pantai dengan muara sungai, Indonesia punya garis pantai 81.290 km terpanjang kedua dunia dan DAS sebanyak 5950 wilayah (DAS terdiri dari beberapa sungai besar).
    Referensi : google > ‘ostomic power’
    b. Pola operasi hybrid dengan sumber energy lain guna memaksimalkan pemanfaatan potensi kelautan, a.l. wave, tidal, wind, sea water pumped storage. Seandainya berkenan dimohon Prof. Donny dapat memberikan informasi & tanggapan atas aplikasi sistem sea water pumped storage di Yanbaru Okinawa Japan. Idenya saat siang hari (beban listrik rendah) air laut di pompa ke kolam berada di atas, dan saat malam hari (saat beban puncak, atau pengganti kapasitas pembangkit rusak) difungsikan sebagai PLTA normal. Kolam air laut tsb dapat sebagai sumber air baku melalui proses reverse osmosis, tau fungsi lainnya.
    Referensi :
    http://seawaterpower.com/mp-sps.html
    http://www.onpedia.com/encyclopedia/pumped-storage-hydroelectricity
    Semoga kita dapat memanfaatkan sumber energi terbarukan ini secara bijak bagi masyarakat Indonesia, terutama di daerah terpencil.
    Salam,
    Djoko Budi Walujo
    (penggiat energi terbarukan)



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.